skip to Main Content
Tak Usah Peduli Dengan Pencapaian Orang Lain!

Tak usah peduli dengan pencapaian orang lain!

Namun kadang kadang saat saya mendengar orang membandingkan antara A dan B atau yang lain. Saya pun bilang, kalau tiap orang punya prioritas yang berbeda-beda. Saya juga pernah menyampaikan kepada adik-adik tingkat saya, “Sebenarnya tidak ada yang salah antara kuliah cepat dan lambat. Kalau kamu punya sesuatu yang harus kamu kerjakan dan menyebabkan kuliahmu menjadi lambat tidak masalah. Kalau kamu bisa kuliah cepat tanpa hambatan kenapa tidak di percepat. Yang salah adalah ketika kamu tidak punya sesuatu yang perlu kamu kerjakan dan kamu hanya bermalas-malasan dan kuliahmu menjadi lama”.

reading on estacao de braga.jpg

Nikmati Hidupmu, Jadilah diri sendiri

Saya pernah baca artikel di Time yang berbunyi Why Instagram is the worst social media for mental health”. Hal ini lagi-lagi ada unsur membandingkan di dalamnya. Pengguna Instagram akan lebih sering membandingkan hidup mereka dengan orang lain yang ada di sana.  Taukah kamu kalau sebenarnya hidup seseorang yang kamu lihat di Instagram atau di Youtube tidak sepenuhnya semuanya bahagia? atau mungkin mereka mendapatkannya dengan mudah?. Semua butuh prosess dan akan selalu ada hal berat sebelum mereka dapat itu semua. Kata saya sih, dasar manusia selalu lihat sisi enak dari seseorang tanpa pernah lihat bagaimana seseorang itu menderita untuk dapat itu semua.

Biar sedikit ku ceritakan hidupku, saat SMP saya sekolah di salah satu SMP swasta di kota saya dan di sana orang-orang pintar nan kaya itu banyak saya selalu ada di peringkat dibawah 35 dari 40 orang siswa. Minder iya, namun saya tidak pernah ambil pusing dengan itu semua. Setelahnya saya masuk SMK Teknik mesin di Malang di sana saya cukup terbentuk dengan lingkungan keras dan tak kenal siapa-siapa. Hal miris saat saya coba masuk Universitas. Saat itu saya ingin masuk ke Universitas Brawijaya namun ternyata di situ anak SMK tidak bisa masuk melalui jalur SNMPTN(waktu itu Namanya SNMPTN jalur undangan). Alhasil saya daftar kampus ITS dan Universitas Tadulako (di kota saya). Masih penuh semangat saya coba daftar SNMPTN tertulis (saat ini SBMPTN), namun karena anak SMK tak belajar begitu mendalam soal beberapa mata pelajaran yang di ujikan saya waktu itu merasa pasrah dan angkat tangan.

green boy, Manzaneda

Jangan Menyerah

Saat pengumuman Saya lulus di Universitas Tadulako, waktu itu nafsu anak SMK ini msh panas dan minta sekolah di tempat yang lebih baik Politeknik Negeri Malang waktu itu yang masih buka. Namun orang tua berkata, sebenarnya kalau kamu masuk di sana bapak tidak punya uang banyak untuk biaya masuknya, yang memang waktu itu cukup mahal. Sayapun berdamai dan masuk di Universitas tadulako tahun 2011 yang waktu itu kampusnya gersang, jalanannya berlubang, bahkan ada sapi di dalam kampus berkeliaran. Setelah kuliah di sana saya pun malah mencicipi jalan-jalan gratis keluar negeri via beberapa program kerjasama yang ada di kampus. Bahkan saat ini saya bisa melanjutkan kuliah di Korea.

Baca Juga : Cerpen Dibalik Rahasia Pasti Ada Rahasia

Intinya tak perlu lah kita membanding-bandingkan pencapaian orang lain lalu merasa kita tidak bisa. Kalaupun membandingkan lihat sisi positifnya dan jangan menyerah. Tiap orang punya kemampuan dan takdir masing-masing. Kembali ke Insecurities tadi ada beberapa cara untuk membasminya:

  1. Perihal merasa cukup dengan apa yang kita punya. “cukup” ini punya kekuatan yang hebat.
  2. Bersyukur, di sini belajar menerima dan menysukuri apa yang ada. Semua yang terjadi dan di berikan kita oleh Allah itu selalu punya jalan yang lebih baik. Kalau kamu merasa kurang lihatlah orang lain yang mungkin lebih menderita dari kamu.
  3. Lalu damailah dengan dirimu sendiri. Kamu punya fisik yang kurang, punya beban lain atau suka membandingkan berdamai lah, jangan penuh beban. Kalau kamu bisa lakukan ini hidup akan lebih indah.
  4. Berusahalan semaksimal mungkin, semakin kamu menyalahkan keadaan semakin tidak ada yang kamu bisa buat. Sampai kapan kamu terus seperti itu?
  5. Lalu untuk kamu yang masih suka mengolok-olok temanmu, lebih baik tanyakan pada mereka apa yang bisa kamu lakukan untuk dia agar bisa membantu, daripada kamu hanya menghakimi tanpa memberi solusi.

ediutomoputra

Born in Palu, grew in Palu, Malang, Porto.
Falling In Love with Photography,
Some of photo can be found at Instagram.com/ediutomoputra

Back To Top