skip to Main Content
Busan : Nggak Ada Zombienya Kok

Busan : Nggak ada Zombienya kok

Jauh dari rumah bukan pertama kali bagiku. Kota ini mungkin akan menyimpan kenangan, entah itu indah atau tidak saya belum tau pasti. Tapi, sejauh ini tak ada masalah sih .

Let me tell you a story!
Saat akan berangkat ke Korea ada satu teman yang berkata,” Tahu nggak? Kamu tuh lagi hidup di atas mimpi beberapa orang”. Well benar saja bagi kaum pencinta Korea, kuliah di Korea seperti sebuah impian yang bahkan mereka sendiri gak percaya diri bisa ke sini. Sedangkan bagiku Korea sama seperti negara maju lainnya. Menyimpan misteri dan teka-teki, bagaimana tidak Korea merdeka dari Jepang dalam waktu yang berdekatan dengan Indonesia. Namun status sosialnya sekarang lebih tinggi dari Indonesia (red: Negara Maju).

Waktu dapat jatah untuk penempatan belajar bahasa di Busan saya langsung kepikiran Film Train to Busan dan langsung cari film itu yang waktu itu belum nonton juga. Filmnya sih biasa aja menurutku, gak serem dan kurang menarik. Lanjut, gara-gara film itu juga sebelum dan sesudah sampai di sini masih ada aja yang nanyain “ada zombie gak di situ?”. Kadang kepikiran gini sih, itu yang nanyain udah pernah nonton filmnya apa iseng doang nanyanya? ya gimana nggak kepikiran ke situ. Kalau udah pernah nonton filmnya pastinya tau dong ya zombienya gak sampe ke Busan , atau mungkin di akhir film ada easter eggnya kali ya? jadi tau-tau ada possibility kalo si Zombie masuk kawasan Busan. ‍😁

Busan sendiri berarti 부= Kawah 산=Gunung, ya emang cocok sih , gunung di sini banyak banget dan kotanya sendiri kaya ada di kawah di kelilingi gunung-gunung itu. Waktu sampai pertama kali dan lihat lokasi kampus yang ada di lereng gunung rasanya sedikit shock kalau-kalau bakalan naik turun dari kampus ke kota dan gak ada kendaraan. Untungnya kampus punya shuttle bus gratis dan ada bus reguler yang masuk juga ke area kampus. Sebelum datang ke Busan, pikirku Busan itu nggak gede-gede banget. Tapi ternyata lebih besar dari yang ku bayangkan (salah prediksi), mau ke pusat kota aja dari kampus sekitar 30 menit pakai subway.

Layaknya kota besar lainnya di negara maju, transportasi Public di Busan lumayan bagus. Ada bis dan metro (subway). Cuman ada yang sedikit perlu kalian tahu waktu masuk public transport, kadang-kadang dan bahkan sering ada bau-bau aneh 😅. Tebakanku sih bau badan orang sini karena biasanya bau tersebut tercium juga kalo lagi ramai orang walaupun nggak di dalam subway. Anyway, subway di sini mirip sama KRL Jabodetabek. Pertamakali masuk beneran berasa seperti lagi di Jakarta . Tapi, dengan aroma yang sedikit berbeda.😆

Baca Juga : Cara Mendaftar Korean Goverment Scholarship (KGSP)

Di Busan banyak emak-emak yang jualan di pinggira jalan selayaknya pedagang kaki lima di pasar di Indonesia. Suatu hari pernah nyoba belanja apel nah itu murah sih sekitar 3000₩ (sekitar Rp. 36.000). Nah masalahnya apelnya banyak banget sampe waktu nulis tulisan ini aja belum habis. Nah dengan kemampuan bahasa yang masih semrawut ini nyoba deh nanya bisa nggak kalo beli 5 biji atau setengahnya, tapi ya ga boleh . Sebenernya waktu itu suasana emang ga lagi kondusif karena 2 org teman yang rada sableng dan bahasanya juga masih ala kadarnya belanja juga dan nyoba praktekin kalimat “깎아 주세요 (gga-gga ju-se-yo) yang artinya minta discount. Gimana si hati emak emak tadi gak jengkel, ya saya kena imbasnya juga kan jadinya. Akhirnya beli deh seharga 3000₩ tadi.

Namsan

Geumsong Gu (Click foto untuk lihat dalam mode panorama)

Eh iya, soal gunung. Tepat di belakang Dormitory saya ada gunung dengan Track yang lumayan enak buat didaki. Kadang-kadang tiap akhir pekan saya dan beberapa teman naik ke atas gunung tersebut. Di perjalanan bahkan kami nemu kuil yang selama kami naik hanya 1 kali kami dapati kuilnya ada aktivitas sisanya, terkunci rapat dan hanya ada seekor anjing disana.

Bagian terindah dari naik gunung di sini adalah waktu sunset. Apalagi kalau pas lagi cerah warna orangenya itu berasa kaya nggak mau turun ke bawah . Tapi ya harus turun lah udah malam dan dingin pula. Ngga mau deh jadi beku di atas sana, udah cukup hati ini aja yang beku 😰.

ediutomoputra

Born in Palu, grew in Palu, Malang, Porto.
Falling In Love with Photography,
Some of photo can be found at Instagram.com/ediutomoputra

Back To Top