skip to Main Content
Aku Dan Negeri Van Oranje: Amsterdam

Aku dan Negeri Van Oranje: Amsterdam

Mungkin belanda tak pernah asing dari pendengaran kita orang Indonesia. Mungkin kita akan selalu mengait-kaitkan Belanda dengan penjajahan. Ya, sejarah itu akan terus teringat dalam diri kita. Namun bagiku kini Belanda adalah negara maju dan mempesona.

Desember 2015, perjalanan dari Paris-Amsterdam kami tempuh sekitar 7 jam dengan Eurolines Bus. Kami tiba di pagi buta dan menunggu metro beroperasi. Hujan menyambut kami pagi itu. setelah metro beroperasi (sekitar jam 6 pagi) kami langsung menuju Amsterdam Centraal.

Peta Metro dari Stasiun Bis

Peta Metro dari Stasiun Bis

Kami menginap di hostel yang lokasinya ternyata dekat dengan Red Light District (suatu kawasan prostitusi yang cukup terkenal di Amsterdam). Lokasinya sendiri cukup strategis menurut saya. Hostel ini dikelola oleh asosiasi kristen, namun siapa sangka saat kami tiba ternyata di sana juga banyak turis muslim yang menginap beberapa dari Malaysia (yang hampir ku kira dari Indonesia. Hostel ini punya ukuran kamar yang besar bayangkan saja kamar yang saya tempati ternyata kamar untuk 16 orang 😂 (namanya juga murah meriah). Cuaca yang kurang bersahabat sedikit mengurangi kegembiraan saya di kota ini sebenarnya.

Di Amsterdam tak banyak yang kami lakukan, hanya berputar putar di kota dan menikmatinya. Tak lupa mengunjungi tulisan “I Amsterdam” yang iconic tersebut. Suasana natal menyelimuti seluruh kota Amsterdam saat itu.

Ice Skating Amsterdam

Some Children Playing Ice Skating

Di sekitar area Christmas Market saya menemukan lokasi Ice Skating terbuka bagi anak-anak, mereka sangat antusias belajar bahkan di bantu dengan kursi 😁, yang sedikit saya takjub anak-anak ini main di atas es yang tergenang air beberapa bahkan terjatuh dan basah namun mereka terus tertawa gembira (nggak takut masuk angin kali yak).

I and iamsterdam

Eh iya di Belanda Ganja itu legal, lalu saya pernah diberitahu oleh senior “Nanti kamu di sana bakal nyium aroma-aroma ganja di penjuru kota”,. Benar saja, saat di sana saya banyak menemukan toko-toko yang menjual bibit ganja, alat hisap, bahkan ada brownies dengan kandungan ganja (boleh di coba kalau mau  fly-fly). Aroma ganja itu pun akan tercium kala matahari mulai tenggelam, entah darimana tapi di daerah pusat kota dan sekitar Red Light District aromanya cukup menyengat. Eh iya Soal Red Light District, itu bagian paling edan di Amsterdam, kalau siang sih tidak akan kelihatan. Bahkan kami dengan santainya lewat di daerah tersebut.

Baca Juga : Aku dan Negeri Van Oranje : Leiden, Den Haag

Ketika hari gelap semuanya berubah, toko-toko di daerah tersebut kemudian buka sepanjang jalan akan ada wanita-wanita menggunakan pakaian two piece yang terpajang di sana dan seperti memanggil-manggil. Ada pula Museum sex dan erotic. Di daerah sini ada aturan tidak tertulis dilarang mengambil gambar kalau tidak mau kameramu atau kamu berakhir tidak enak.

ediutomoputra

Born in Palu, grew in Palu, Malang, Porto.
Falling In Love with Photography,
Some of photo can be found at Instagram.com/ediutomoputra

Back To Top